Suti

Suti

Sapardi Djoko Damono / Aug 21, 2019

Suti Suti adalah seorang perempuan yang dengan enteng tetapi tegar menyaksikan dan menghayati proses perubahan masyarakat pramodern ke modern yang dijalaninya ketika bergerak dari sebuah kampung pinggir ko

  • Title: Suti
  • Author: Sapardi Djoko Damono
  • ISBN: 9789797099862
  • Page: 270
  • Format: Paperback
  • Suti adalah seorang perempuan yang dengan enteng tetapi tegar menyaksikan dan menghayati proses perubahan masyarakat pramodern ke modern yang dijalaninya ketika bergerak dari sebuah kampung pinggir kota ke tengah tengah kota besar Ia bergaul dengan gerombolan pemuda berandalan maupun keluarga priayi tanpa merasa kikuk, dan melaksanakan apa pun yang bisa mendewasakan dan mSuti adalah seorang perempuan yang dengan enteng tetapi tegar menyaksikan dan menghayati proses perubahan masyarakat pramodern ke modern yang dijalaninya ketika bergerak dari sebuah kampung pinggir kota ke tengah tengah kota besar Ia bergaul dengan gerombolan pemuda berandalan maupun keluarga priayi tanpa merasa kikuk, dan melaksanakan apa pun yang bisa mendewasakan dan mencerdaskan dirinya Suti terlibat dalam masalah yang sangat rumit dalam keluarga Den Sastro, yang sulit dibayangkan ujung maupun pangkalnya.

    • Best Read [Sapardi Djoko Damono] ☆ Suti || [Thriller Book] PDF î
      270 Sapardi Djoko Damono
    • thumbnail Title: Best Read [Sapardi Djoko Damono] ☆ Suti || [Thriller Book] PDF î
      Posted by:Sapardi Djoko Damono
      Published :2018-012-25T00:49:30+00:00

    About "Sapardi Djoko Damono"

      • Sapardi Djoko Damono

        Riwayat hidupMasa mudanya dihabiskan di Surakarta Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah majalah Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra sekarang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah Horison , Basis , dan Kalam.Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003 Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.Karya karyaSajak sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan , Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari Kepopuleran puisi puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana tergabung dalam duet Dua Ibu Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.Berikut adalah karya karya SDD berupa kumpulan puisi , serta beberapa esei.Kumpulan Puisi Prosa Duka Mu Abadi , Bandung 1969 Lelaki Tua dan Laut 1973 terjemahan karya Ernest Hemingway Mata Pisau 1974 Sepilihan Sajak George Seferis 1975 terjemahan karya George Seferis Puisi Klasik Cina 1976 terjemahan Lirik Klasik Parsi 1977 terjemahan Dongeng dongeng Asia untuk Anak anak 1982, Pustaka Jaya Perahu Kertas 1983 Sihir Hujan 1984 mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia Water Color Poems 1986 translated by J.H McGlynn Suddenly the night the poetry of Sapardi Djoko Damono 1988 translated by J.H McGlynn Afrika yang Resah 1988 terjemahan Mendorong Jack Kuntikunti Sepilihan Sajak dari Australia 1991 antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R F Brissenden dan David Broks Hujan Bulan Juni 1994 Black Magic Rain translated by Harry G Aveling Arloji 1998 Ayat ayat Api 2000 Pengarang Telah Mati 2001 kumpulan cerpen Mata Jendela 2002 Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro 2002 Membunuh Orang Gila 2003 kumpulan cerpen Nona Koelit Koetjing Antologi cerita pendek Indonesia periode awal 1870an 1910an 2005 salah seorang penyusun Mantra Orang Jawa 2005 puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia Musikalisasi PuisiMusikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya Album Hujan Bulan Juni 1990 dari duet Reda dan Ari Malibu Album Hujan Dalam Komposisi 1996 dari duet Reda dan Ari Album Gadis Kecil dari duet Dua Ibu Album Becoming Dew 2007 dari duet Reda dan Ari Malibu satu lagu dari Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti , berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata Ars Amatoria yang berisi interpretasinya atas puisi puisi SDD.Buku Sastra Lisan Indonesia 1983 , ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A Kasim Achmad Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.


    957 Comments

    1. Karena judulnya Suti, maka fokus saya saat membaca novel ini adalah ke Suti. Tapi kok rasanya Suti ini kayak "alat" ya? Dia seakan-akan hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.Dimulai sejak dia dikawinkan dengan seorang duda oleh ibunya, semata-mata kedok biar ibunya bisa kumpul dengan suaminya Suti. Trus Suti dipekerjakan di rumah keluarga Sastro, lagi-lagi hidupnya didalangi oleh Ibu Sastro.Novel ini khas dengan nuansa desanya. Deskripsi tentang Solo di jaman dulu itu sering "mengambil [...]


    2. Setelah novel "Hujan Bulan Juni" yang ternyata kurang memenuhi ekspektasi, SUTI berhasil memberikan penghiburan walau agak-agak terasa aroma Ahmad Tohari dengan lingkungan pedesaannya. Setidaknya, dalam SUTI, pembaca dibikin penasaran dengan nasib tokoh-tokohnya, dibuat merasa tentram dengan aroma lokal Solo-nya yang kental, serta ikut lega sampai di penghujung cerita. Tapi, siapakah yang bungsu dan siapakah yang sulung di akhir novel ini? Kunto atau Dewo? Yang penasaran bisa ikutan giveaway-nya [...]


    3. Ada Suti edisi tanda tangan dan postcard gratis. Ikuti giveawaynya di dhynhanarun/201 berlangsung sampai 12 Desember "Perempuan muda itu yatim, dan itu mungkin sebabnya orang desa cenderung menerima sebagai hal yang wajar-sewajar-wajarnya kalau ada berita aneh tentangnya, meskipun mereka tentu juga tahu bahwa orang yatim tidak harus aneh tingkah lakunya." – halaman 5Suti adalah perempuan muda yang tidak bisa diam. Karena tak mau dibilang tidak becus mengurus anaknya, Parni, ibu Suti, menikahka [...]


    4. Syukur novel ini tidak seruwet dan semenyebalkan novel Hujan Bulan Juni, novel ini lebih ringan dan dalam dalam mengulik hidup SUTI wanita jawa dari kalangan abangan yang ngenger di Rumah Bu Sastro. Wanita Jawa yang patuh pada tuannya, (hampir sama dengan nasib Pariyem-nya Linus) rela-serela-relanya. Mengabdikan diri, menyaksikan hidup dan belajar bagaimana orang priyayi itu belajar.Hingga, perut Suti didiami janin NUR. Lantas siapa yang menyimpan pejuh di dalam rahimnya? APakah Pak Sastro yang [...]


    5. Suti, si konyal-kanyil lugu yang terombang-ambing di antara keegoisan suami dan ibunya, dan cinta-cinta yang ditawarkan keluarga barunya. Cermin kehidupan ala priyayi desa di masa lampau. Sekilas ringan dan mudah dibaca, namun sebenarnya banyak fenomena sosial dan kritik budaya yg diangkat di dalamnya. Suka jg penggunaan pastiche, mulai dr kisah-kisah wayang, cerita rakyat sampai film koboi zadul, untuk menyederhanakan penyampaian kesan dan karakter tokoh-tokohnya.#Scoop


    6. setelah membaca novel Hujan Bulan Juni, ada kekhawatiran kalau saya akan mengalami hal yang sama saat membaca Suti, yaitu nggak akan "dong" sama ceritanya. tapi ternyata berbeda. bahasa di buku ini lebih ringan dan tidak ruwet. saya pun di buat penasaran dengan tokoh-tokohnya. cerita ini akan lebih mudah dipahami kalau kita mengerti dunia perwayangan or at least berinisiatif untuk googling. karena banyak hal dalam buku ini yang dikaitkan pak Sapardi dengan dunia perwayangan.


    7. Diselesaikan selepas subuhPerempuan Jawa, Priyayi, Cinta, Nafsu, Ketentraman dan Pemakluman.Tema yang sering dibahas dalam novel2 indonesia, tetap menarik, karena kaya konflik dan penokohan yang kuat.Lagi-lagi menceritakan bagaimana Laki2 itu kalau tidak bisa menjaga burung akan menimbulkan masalah bagi banyak orang.Laki2 dan burung, pake sudut pandang siapapun, atau waktu kapanpun, adalah tema yang menarik. Apalagi kalau yang bertutur itu sapardi


    8. trulyrudiono/20Sesuai adat istiadat yang telah berumur ratusan tahun di Jawa, jawaban ya itu sama saja dengan tidak. Jadi, tidak perlu dirisaukanIni kisah tentang Suti, perempunya konyal-kanyil yang menginginkan lebih.Penuh nuansa kehidupana masyarakat Jawa


    9. Suti SutiCerita yang "ringan" bahasa yang "ringan" pula Belum lama saya membaca Karya Pak Sapardi "Hujan Bulan Juni", dengan ekspektasi lebih pada "Suti". Overall asik juga. Sampai sekali bagaimana tokoh Suti ini " berperan " dalam keluarga Den Sastro.


    10. entah kenapa lebih bisa menikmati daripada novel "Hujan Bulan Juni" cuma kayanya harus lebih berilmu lagi untuk bisa menikmati secara keseluruhan xD



    11. This book is wowwhere do I begin. I mean it should be scandalous, however because of its familiar setting (in Java) and the flow and rhythm of the story it is told as if it’s a normal thing. It’s really messing with my head, a good story to read!



    12. 3.5* Untuk novel iniSuti hanyalah gadis kampung yang riang, penuh percaya diri, dan pemberani. Tidak pernah ada yang tahu siapa ayahnya. Ibunya bekerja di kota sebagai makelar. Di usianya yang sangat muda dia juga harus menikah dengan lelaki yang usianya terpaut jauh. Bahkan orang-orang di kampung, masih tidak percaya alasan Suti menerima suntingan itu. Suaminya bekerja serabutan. Terkadang ikut mertuanya ke kota.Namun, dibalik wajah Suti yang selalu ceria, tak ada yang tahu jikalau Suti sebenar [...]


    13. Bercerita tentang gadis muda bernama Suti yang dipaksa menikah oleh Ibunya dengan Sarno, lelaki yang diinginkan Ibunya. Disini Suti hanya dijadikan alat saja sebenarnya oleh Ibunya untuk mendapatkan Sarno.Di sini juga menceritakan tentang keluarga priyayi Sastro (keluarga dimana Suti bekerja sebagai pembantu) dengan suami yang lenjeh dan kedua anak laki-lakinya Kunto dan Dewo. Tapi kadang ada salah penyebutan antara Kunto yang disebut bungsu padahal Kunto anak pertama yang harusnya disebut mbare [...]


    14. Kisahnya nya dimulai dari Suti, perempuan konyal kanyil yang dinikahkan dengan Sarno. Yang sebenarnya hanya akal akalan ibunya untuk bisa seranjang dengan Sarno. Suti justru terlibat dalam hubungan yang rumit dengan keluarga priyai. Dengan pak Sastro, bu Sastro dan Kunto anaknya.Novel yang sangat menarik, novel yang setiap halaman nya, selalu membuat pikiran saya bertanya tanya, ending nya bagaimana. Terbukti, saya hanya butuh hitungan jam untuk menyelesaikan novel Pak Sapardi ini. Suti ini pere [...]


    15. Jika berasal dari Jawa, mungkin saya akan lebih dapat menikmati dan memahami novel ini.Kisah sederhana tentang Suti dan pemikirannya yang lugu sebelum, saat, dan setelah mengenal keluarga Den Sastro, keluaga priayi yang menjadi majikannya.Mungkin zaman sekarang sudah sulit menemukan wanita--meskipun gadis desa--yang memiliki pola pikir seperti Suti. Dengan latar yang dikisahkan secara apik, kita bisa merasa bahwa sikap nrimo Suti bisa jadi justru menunjukkan kekuatannya dalam menghadapi kehidupa [...]


    16. 3.5 bintang. sesederhana apa pun gaya penulisan Pak Sapardi, saya akan selalu menggemari karya beliau. mungkin karena saya sering satu pemikiran dgn beliau, sering setuju dgn opini2 beliau yg terselip dalam setiap cerita beliau. apalagi Pak Sapardi suka menuliskan karakter perempuan yg tidak "biasa" secara tradisi, seperti Suti ini (atau tokoh Sita dlm cerpen putar-balik di kumcer Pada Suatu Hari Nanti). yang jadi masalah buat saya dlm membaca buku ini, dan akhirnya memaksa saya memberikan nilai [...]


    17. Suti. Buku yang menarik, berlatar sebuah desa bernama Tungkal di pinggiran Solo. Walau bercampur Bahasa jawa, tapi membacanya tetep nggak mau berhenti. Saya seolah terjebak dalam kehidupan Suti di tengah keluarga priayi yang sudah menganggapnya seperti anak di keluarga itu. Konflik yang tercipta pun terasa mengalir apa adanya, antara Suti dengan semua anggota keluarga Sastro. Cerita pun diakhiri dengan drama menyayat hati (ah ini hiperbolis). Nggak segitu menyayatnya sih, semuanya tersirat. Baga [...]


    18. Tiga setengah, seandainya saja menyediakan pilihan itu. Karena tidak ada, dan kebetulan saya sedang suka membulatkan ke atas, maka empat bintang untuk Suti.Ringan. Tak terlalu frontal. Sesekali harus menebak-nebak layaknya membaca sebuah puisi. Novel ini habis sekali teguk dalam perjalanan Yogyakarta-Sepinggan. Meski demikian, saya suka peyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi pada tokoh-tokoh di novel ini, khas novel-novel sastra indonesia. Suti tidak seperti novel-novel populer yang kerap [...]


    19. Novel ini bikin ketagihan, karena penasaran, dan banyak mengundang pertanyaan, sehingga lanjut terus bacanya tapi eeh sampai akhir kok nggak kejawab ya pertanyannya. Itu dia nggak kuberi bintang 5 karena ending-nya blawur alias nggak jelas, nggak jelasnya ttg apa ? Tentang ituuu loh, si Suti dan beberapa hal lain (nanti spoiler, baca sendiri aja) Tetapi ada kalimat yang mendukung dugaan ku ttg endingnya itu, ttg si Suti, ya jadi kuanggap endingnya tafsirannya begitu. Good job, mr Sapardi !Btw, m [...]


    20. Setelah merampungkan novel "Hujan Bulan Juni", saya penasaran dengan novel-novel Sapardi lainnya. Saya ingin 'membaca' gaya berprosa Sapardi. Itulah salah satu alasan saya membeli novel "Suti". Menurut penilaian saya, Sapardi dalam berprosa masih jauh dari Sapardi dalam berpuisi. Sapardi belum matang di penulisan prosa. Seperti kesulitan merangkai kata-kata yang panjang.Sapardi kurang berani dalam penggambaran cerita dalam "Suti". Peristiwa-peristiwa masih terasa samar. Tidak dituntaskan hingga [...]


    21. Ini novel pertama, Pak Sapardi yang saya baca. Saya cukup menikmati dan bahasanya ya cukup tidak biasa. Begitu pula alurnya, tokoh terkesan jalan semaunya tanpa paksaan pengarang. Daan, begitu pula endingnya, waw! Serasa makan krepes aja, kres, kres, kres (maksudnya apa?).Intinya saya suka, dan sungguh saya saluut banget dengan Pak Sapardi. Meski sudah sesepuh itu, beliau masih konsisten menulis. Luar biasa! Sebuah teladan yang wajib diikuti oleh para (calon) penulis muda ya!Mau buku ini secara [...]


    22. Masih dengan gaya penulisan yang sama khas SDD. Sederhana dan sarat makna, mengajak kita untuk masuk dalam kehidupan dengan aroma khas pedesaan, dibumbui beberapa kata-kata dari bahasa jawa yang artinya bisa kita lihat dalam daftar istilah dan kata. Menurut pembaca (saya) sopan santun dan besarnya rasa peduli masyarakat desa adalah salah satu pesan yang ditampilkan dalam buku ini. "sekolah tidak selalu memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan bagi yang rajin mengikutinya" hal. 45


    23. 3.5 bintang dari aku.Seingetku ini pertama kalinya aku baca tulisan pak Sapardi.Dan aku bisa dibilang cukup puas baca novel ini.Novel ini alur, suasana, tema, semuanya bernuansa Jawa yang aku kenal.Pilihan bahasa dan diksi yang dipakai pak Sapardi bener-bener pas menurutku.Duh, aku pingin deh punya dosen kayak pak Sapardi.Kayaknya pak Sapardi tipe orang yang enak diajak ngobrol dan diskusi panjang lebar :')


    24. jalan cerita yang sederhana, bahasa penulisan yang sederhana dan banyak kosa kata dari bahasa jawa, berlatar belakang tahun 60-an, bercerita tentan Suti, perempuan desa yang sederhana dengan jalan pikiran yang sederhana, walau saya rasa konflik dalam novel ini agak kurang "mengigit". but still, it's worth reading.


    25. Suti, tokoh utama cerita ini.Benar kata teman-teman direview yang mereka buat bahwa gaya bercerita, latar belakang dan settingnya berasa kayak baca bukunya Ahmad Tohari. Saya pribadi merasa kuranf detail ceritanya dan karena menggunakan istilah Jawa, saya jadi harus bolak balik ke daftar istilah yang digunakan dalam buku dihalaman depan.


    26. Agak kecewa soalnya saya pikir konfliknya bakal lebih greget dari ini, selain itu kadang ada kalimat-kalimat yang ga saya mengerti, entah karena terjemahan bahasa jawanya atau memang gaya bahasa penulis, jadi ga kebayang kalau harus baca hujan bulan juni yang katanya lebih rumit


    27. Hm. Buku kedua dari SDD dalam bentuk novel, bukan puisi. Hasilnya sama aja sih, alur standar, cerita cenderung sinetron bahkan mungkin aku pribadi memang lebih menikmati karya SDD dalam bentuk puisi.


    28. Saya benar-benar menyukai buku ini karena punchline-nya benar-benar di halaman terakhir. Menakjubkan. Saya merekomendasikan buku ini pada pembaca yang ingin mendapatkan insight akan kehidupan keluarga Jawa yang penuh dengan kecanggungan.


    Leave a Reply