Corat Coret di Toilet

Corat Coret di Toilet

Eka Kurniawan / Aug 21, 2019

Corat Coret di Toilet Aku tak percaya bapak bapak anggota dewan aku lebih percaya kepada dinding toilet

  • Title: Corat Coret di Toilet
  • Author: Eka Kurniawan
  • ISBN: 0979958171210
  • Page: 236
  • Format: Paperback
  • Aku tak percaya bapak bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet.

    • [PDF] È Free Read ✓ Corat Coret di Toilet : by Eka Kurniawan Õ
      236 Eka Kurniawan
    • thumbnail Title: [PDF] È Free Read ✓ Corat Coret di Toilet : by Eka Kurniawan Õ
      Posted by:Eka Kurniawan
      Published :2018-010-09T14:04:58+00:00

    About "Eka Kurniawan"

      • Eka Kurniawan

        Eka Kurniawan was born in Tasikmalaya in 1975 and completed his studies in the Faculty of Philosophy at Gadjah Mada University He has been described as the brightest meteorite in Indonesia s new literary firmament, the author of two remarkable novels which have brought comparisons to Salman Rushdie, Gabriel Garc a M rquez and Mark Twain the English translations of these novels were both published in 2015 Man Tiger by Verso Books, and Beauty is a Wound by New Directions in North America and Text Publishing in Australia Kurniawan has also written movie scripts, a graphic novel, essays on literature and two collections of short stories He currently resides in Jakarta.Eka Kurniawan, seorang penulis sekaligus desainer grafis Menyelesaikan studi dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Karyanya yang sudah terbit adalah empat novel Cantik itu Luka 2002 , Lelaki Harimau 2004 , Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas 2014 , dan O 2016 empat kumpulan cerita pendek Corat coret di Toilet 2000 , Gelak Sedih 2005 , Cinta Tak Ada Mati 2005 , dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi 2015 serta satu karya non fiksi Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis 1999.


    426 Comments

    1. Eka Kurniawan memang bukan penulis sembarangan dan asal jadi. Cerpen maupun novel sama-sama keren. Novelnya Cantik Itu Luka sukses membuatku mabok, nggak kuat. Sedang cerpen-cerpennya menurutku punya gaya sendiri, ada lucu, ada satire, juga ada kejutan di akhirnya yang kadang kita nggak selesai tertawa.Aku masih ingat cerpen dengan judul Gerimis Yang Sederhana, CMIIW, dengan seting china town di USA, sepasang kekasih yang ingin melamar tetapi cincinnya justru ikut dikasihkan bersama receh untuk [...]


    2. Sometimes when the author's name (and their international awards and recognitions) preceded their works you're yet to read, you tend to be cautious. I remember all the hypes and praises on certain authors, yet I only able to read one or two of their works. Then I gave up. But with Eka Kurniawan, I am sure I'll read all his works regardless. ***Paling suka cerita Coret-coret di Toilet, dan paragraf ini dari cerita Peter Pan: "Ia berkata bahwa mencuri buku merupakan tindakan terkutuk, dan ia melak [...]


    3. Tulisan di kumcer ini agak berbeza dengan tulisan Eka Kurniawan yang saya pernah baca sebelum ini. Barangkali gaya penulisannya di tahun-tahun awal santai-santai begini saja. Namun isu setiapnya bagus dan pelbagai-- sosial, politik, hal harian, masalah hidup, kriminal dan utamanya cinta. Bacaan ringan, dan saya masih suka juga-- komikal sekali. Ending cereka hampir kesemua begitu mendatar dan bersahaja sehingga saya aduh pak penulis ini terlalu jujur (ini komplimen ya!). Antara yang saya suka-- [...]


    4. Wah, baguuus :D Aku suka hampir semua ceritanya. Gimana ya nyentil gitu deh satir asik (((gak cocok buat yang gampang nelen sesuatu bulet bulet tanpa dikunyah dulu))). Eheheheu♤Seneng banget sama sesuatu yang berlatar belakang perang atau reformasi, ini semacam side storynya dari sudut pandang orang yang selama ini nggak terlalu berperan signifikan kayak serdadu, orang gila, mahasiswa abadi dan yang lain. Asik bangeeeeeet paling suka deh pokoknya. Meskipun gak greget greget amat.Baru pertama i [...]


    5. Anggapan saya selama ini ternyata salah. Tak kirain isi bukunya sama aja kayak yang di kumcer Gelak Sedih. Ternyata di buku ini ada tambahan dua cerpen yang tidak ada di dalam Gelak Sedih: Dewi Amor dan Kandang Babi.Tulisan-tulisannya Eka Kurniawan memang re-read-able banget dah. Terutama kumcernya.


    6. 3.5/5 StarsKumpulan cerita pendek yang berisi 12 kisah. Yang paling favorit Corat-coret di Toilet dan Siapa Kirim Aku Bunga? Sejak baca Lelaki Harimau saya jadi tertarik dengan buku-buku Eka Kurniawan yang lain. Sudah punya Cantik itu Luka dan O yang siap untuk dibaca :D


    7. tidak banyak penulis seperti eka kurniawan: lucu, segar dan tidak terbawa suasana melodramatik. cerita-cerita di dalam buku ini dituturkan dengan gaya komikal, terutama dalam segi adegan. ide yang diangkat cukup beragam, dari kehidupan mahasiswa, kisah cinta hingga politik dan sosial, membuat buku ini cukup kaya dan tidak membosankan untuk dinikmatiyangnya, di sebagian besar cerpen, eksekusi ending yang eka buat kurang enak (emangnya kue :p)


    8. Terbiasa baca tulisan Eka dalam bentuk novel, baca kumcer rasanya nanggung. Konfliknya terkesan datar. Eksekusinya kelewat cepat. Siapa Kirim Aku Bunga? yang paling keren di antara tulisan lainnya. Menurutku, sih.



    9. Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, Teman Kencan, Rayuan Dusta Untuk Marietje, Hikayat si Orang Gila, Si Cantik Yang Tak Boleh Keluar Malam, Siapa Kirim Aku Bunga, Tertangkapnya si Bandit Kecil Pencuri Roti, Kisah Dari Seorang Kawan, Dewi Amor, Kandang Babi. satuduatigadua belas yup ada dua belas kumcer karya Eka Kurniawan. Paling suka yang seniman pada ngilang dijaman pemerintahan si anu yang awet usia alias gak mati-mati apa ya judulnya Hikayat si Orang Gila kalo gak salahtire ringan tapi nge [...]


    10. Kumpulan cerita pendek karya Eka Kurniawan ini merupakan salah satu buku yang membuat saya sulit untuk tidak membalikkan halaman. Tema-tema yang diangkat begitu dekat dengan keseharian kita, bahkan salah satu kisah yang berlatar tahun 1800an pun tidak terasa berjarak dengan saya sebagai pembaca di era 2000.Dari segi penggunaan bahasa dan kata, penulis mampu mengemasnya dengan amat apik, tanpa dibuat-buat. Kadang mengundang gelak tawa, kadang pula mengundang iba pun keprihatinan. Cukup sulit bagi [...]


    11. Bagi saya yang baru kali ini berkenalan dengan tulisan karya Eka, sepertinya ini buku yang wajib dibaca bagi pemula kayak saya ini. Pertama, karena ini merupakan kumpulan cerpen yang tidak begitu tebal, sehingga bisa mencegah pembaca buku Eka untuk pertama kali dari kebosanan dan bisa menimbang untuk lanjut atau tidak.Kedua, gaya bercerita Eka ini enak, ringan dan renyah. Cerita mengalir dengan baik dengan bahasa yang cukup enak untuk diikuti. Dan tentunya, Ketiga, berisi cerita-cerita yang memi [...]


    12. Membaca karya Eka Kurniawan yang satu ini agaknya (kok) tidak berasa istimewa. Cerpen-cerpen di sini dibuat sebelum novel Cantik Itu Luka (barangkali). Berikut beberapa karya yang baik dalam kumcer ini:1. Corat-coret di Toilet (bikin mikir)2. Teman Kencan (bikin tertawa)Tetapi di tiga cerpen lain saya juga berkesempatan bernostalgia (seharusnya saya baca kumcer ini dulu sebelum baca Cantik Itu Luka); dalam Dongeng Sebelum Bercinta saya mengingat Alamanda, dalam Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Ma [...]


    13. Kumcer yg mengejutkan karena terasa biasa-biasa saja. Khususnya bagi sekelas Eka.Terbit perdana pada 2000, bisa dipahami dan cukup terlihat Eka blm mewah sebagai seorang sastrawan.Ada tiga cerpen yg bagus:1) Corat-Coret di Toilet2) Dongeng Sebelum Bercinta3) Teman Kencansisanya, rasanya saya bisa bikin cerpen yg menyaingi.


    14. Sejarah memang selalu tak pernah buat bosan untuk dijadikan sebagai bahan sastra. Melalui karya Corat Coret di Toilet, Mas Eka Kurniawan meninggalkan jejak-jekak sejarah yg menarik nan asik untuk ditulusuri. Balutan satire komedi menambah nilai plus untuk karya yg satu ini.



    15. Karya Eka yg pertama kali saya baca. Gak salah pilih. Eka muda ceritanya asik dan nagih buat baca karya eka yang lainnya. Suka sama humor gelap, humor bikin mikir, satire nya semua cerita yang Eka buat, dan jangan berekspektasi atas akhir ceritanya bakal gimana karena itu sungguh di luar dugaan, serta jangan gampang nelen intisari dari cerita dengan gitu aja.Cerita yang saya suka itu Siapa Kirim Aku Bunga dan Edi Idiot.


    16. Buat saya, membaca kumpulan cerpen Eka Kurniawan ini berarti bernostalgia. Mayoritas cerita dalam buku ini sudah saya baca beberapa tahun lalu dalam kumpulan cerita Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Meskipun cerpen berjudul Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti tidak ada). Namun bedanya, ada tambahan dua cerpen dalam buku ini yaitu Dewi Amor dan Kandang Babi yang ditulis di tahun yang sama namun belum diterbitkan, yang mungkin merupakan sebuah bonus bagi Anda yang membaca cetakan ulang [...]


    17. Buku ini memuat 12 judul cerpen yang ditulis selama periode tahun 1999-2000. Corat-coret di Toilet kali pertama terbit sekitar tahun 2000 oleh Yayasan Aksara Indonesia berisi sepuluh cerpen, kemudian diterbitkan ulang oleh Gramedia pada tahun 2014 dengan menambah dua cerpen lagi. Cerpen-cerpen tersebut adalah Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, Corat-Coret di Toilet, Teman Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Hikayat Si Orang Gila, Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam, Siapa Kirim Aku Bunga?, [...]


    18. "Kau ini gila atau sinting? Selesaikan dongengmu malam ini juga dan kau rasakan bagaimana rasanya bercinta. Dengar, kau bukan Syahrazad yang lihai membual. Pada saatnya, suamimu akan bosan dan mungkin ia memutuskan memenggal kepalamu dengan golok."hal. 20Sebagai orang yang lebih mudeng sama bacaan roman, cerpen Dongeng Sebelum Bercinta dan Teman Kencan adalah dua cerpen yang paling saya ingat. Keduanya memiliki plot twist yang menohok di bagian akhir, dengan alur yang sedari awal digiring untuk [...]


    19. Membaca kumpulan cerpen ini, saya membayangkan Eka Kurniawan muda, seorang pemuda kritis dengan ide-ide liar yang luar biasa. Sedikit berbeda dengan novel-novelnya yang menurut saya begitu matang, utuh, dan terencana dengan seksama, cerpen-cerpen di buku ini menurut saya masih menyisakan ruang untuk tendangan-tendangan tak terduga khas Eka Kurniawan. Ide-idenya sangat menarik, tetapi teknik penceritaannya masih terlalu 'normal' untuk seorang Eka Kurniawan, masih dipenuhi narasi dan deskripsi, ya [...]


    20. Cadas, sarkas, dan satir sosial dilahirkan dari kumpulan cerita yang tersaji. Membaca cerpen tak pernah seserius ini ketika Eka yang menulisnya. Tak bisa dinikmati sambil lalu, atau di tengah-tengah kemacetan, atau bahkan sambil duduk di atas toilet dan menunggu bunyi 'plung' terdengar bercipratan bersama air. Ambil waktu khusus. Buka pikiran, seduh kopi pahit panas-panas, sesap pelan-pelan, baca! Habiskan hari itu juga! Tengok kembali apa yang terjadi di sekitar kita. Satu-dua cerita pasti ada [...]


    21. Ketika cerita-cerita ini ditulis, aku masih berusia sekitar 12 tahun. Atau masih kelas 1 SMP. Tidak banyak hal yang kukenang sebelum 98, sehingga pemahaman mengenai keadaan saat itu cukup lemah.Membaca cerpen di buku ini menambah beberapa pemahaman baru dan menjadi mengerti kenapa dulu ibu ketakutan kalau melihat ada orang mengeruk tong sampah. Itu pernah benar ada. Ibu sangat takut dengan babinsa. Ibu sangat takut dengan orang gila. Pasalnya, orang gila di kampung kami itu pintarnya luar biasa. [...]


    22. 2,5 starsBeberapa hari lalu, teman saya di Group Joglosemar sempat heboh begitu menemukan satu karya Eka Kurniawan yang lain selain Cantik itu Luka di Ijak. Saya sendiri setelah lamaaaa selesai membaca Cantik itu Luka yang meninggalkan luka yang dalam setelah membacanya, jadi muncul perasaan antara ingin membaca atau tidak ingin membacanya. Saya penasaran apakah Eka Kurniawan masih tetap 'sadis' dalam bercerita seperti rasa ngilu yang saya rasakan setelah membaca Cantik itu Luka. Tapi ternyata h [...]


    23. Damn, I found my favorite Indonesian writer whose style is up my alley. Kudos. This dark-themed story collection easily snatched the weaves of any other short story collections that I've read. I love how well-written the abrupt change of tone the stories take and how dry, almost indifferent way it was told. I thought the nameless point of views was a nice touch to have; it makes it easier to dive into the visual in your mind. My favorite story might be a tie between Dongeng Sebelum Bercinta & [...]


    24. Karya fiksi pertama Eka Kurniawan ini sudah menunjukkan bagaimana kualitas Eka yang tak bisa di anggap biasa saja sebagai penulis muda. Seluruh cerita di kumpulan cerpen ini ditulis Eka pada rentang 1999-2000, masa setelah ia menyelesaikan studi di Fakultas Filsafat UGM dan mulai menapaki karir sebagai penulis. Meski mengangkat tema besar tentang kritik pada penguasa, namun hal-hal biasa lainnya disuguhkan menjadi suatu hal memikat. Cerita Peterpan yang menjadi pembuka adalah termasuk cerita yan [...]


    25. Aku baru tahu ketika membaca, buku ini adalah cetak ulang dari buku sebelumnya dengan judul yang sama di tahun 2000. "Corat-Coret di Toilet" merupakan salah satu judul cerita pendek dalam buku ini.Menarik. Setiap cerpen dibahas dengan kritik sosial politik yang kental. Mungkin karena waktu itu memang jamannya perubahan alias reformasi. Aku tak menyangkalnya. Tapi hanya beberapa cerpen saja yang terngiang di kepala; salah satunya "Corat-Coret di Toilet".Kenapa? Karena jawabannya ada di sini.


    26. Membaca cerpen karya Eka Kurniawan di buku ini memberikan saya perasaan yang sama dengan ketika membaca seri cerita klasik semacam Kenangan Cinta - Anton Chekov. Barangkali penulis zaman dulu Memang begitu. Tema yang di angkat adalah tema-tema sederhana, pun kata-kata yang digunakan. Sehingga yang lebih ditonjolkan adalah cara menyampaikan cerita. Menjadikan buku ini sebagai bacaan ringan namun tanpa mengurangi perasaan 'deg!' di akhir setiap cerita.Keren.


    27. loh kok biasa saja??***kalau tidak salah dan seingat saya sih, sudah banyak ya buku kumpulan cerita yang temanya menyindir pemerintah gini. tapi yang ini kok ya,,biasa aja. jalan ceritanya kayaknya terlalu biasa kayak bukan tulisan mas Eka (padahal baru baca karyanya sedikit, eh atau mungkin begini gaya tulisan mas Eka?)tidak ada yang benar-benar membekas di benak saya setelah selesai saya baca, tapi saya belajar banyak hal baru juga


    28. Ringan, satir, dan sepertinya menggambarkan betul gaya awal kepenulisan Eka Kurniawan juga bagaimana kondisi Republik pada awal era Reformasi dulu. Saya jadi penasaran: apa mahasiswa jaman itu memang banyak yang menumpang tinggal di kampus?


    Leave a Reply